Home / Kabar Desa / “ TELASAN LONTONG”, Tradisi Yang Masih Terjaga Di Sumbersalak

“ TELASAN LONTONG”, Tradisi Yang Masih Terjaga Di Sumbersalak

Exif_JPEG_420

Seain Lebaran Idul Fitri yang dimanfaatkan oleh lmayoritas umat muslim untuk sebagai ajang silaturrahmi dan bermaaf – maafan, ada pula lebaran yang disebut dengan “ Telasan Lontong “ (dalam bahasa Madura) atau biasa disebut dengan lebaran ketupat  yang merupakan salah satu  tradisi turun temurun  yang masih terjaga dan dilestarikan. Salah satunya di desa Sumbersak, Kec. Ledokombo Kabupaten Jember. (Sabtu, 01 Juli 2017)

Di Sumbersalak, kegiatan membuat makanan yang terbuat dari beras dengan bungkus dengan daun pisang maupun dari anyaman janur ini biasa dilakukan pada lebaran hari ke-7. Seperti biasa, warga dengan membawa ketupat dan kelengkapannya seperti opor ayam maupun lauk pauknya untuk di bagikan ke tetangga maupun kerabat terdekat adapula dibawa ke Masjid, Mushola atau tempat lain yang disepakati. Setelah dikumpulkan, warga kemudian melakukan doa bersama, dan di akhiri dengan  menyantap ketupat bersama sama.

Menurut salah satu tokoh masyarakat, tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun di desa Sumbersalak. Selain sebagai penanda sempurnanya puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa Syawal selama 6 hari yang dimulai pada hari ke 2 bulan Syawal. Tradisi Lebaran ketupat ini juga dilakukan untuk menjaga tali silaturahmi antar warga, seperti yang dikatakan oleh Ustadz Tauhid, salah satu tokoh dari Dusun Karang Anyar Desa Sumbersalak..

 “Telasan Lontong atau yang biasa di sebut dengan hari raya ketupat ini sebagai penanda lengkap dan sempurnanya puasa kita, dan sebagai ajang rasa syukur kita karena sebagian besar umat Islam telah melaksanakan Siltaurrahmi  dan saling memaaf maafkan antar sesama.” terangnya saat ditemui oleh Tim Redaksi Sumbersalak (TIRES)

“ Bahkan ada yang berpendapat jika Lebaran Ketupat ini merupakan “ hari rayanya “ bagi orang orang yang berpuasa Syawal,” lanjutnya

Masih menurut Tauhid, meski masih dilaksanakan sampai sekarang, makna Lebaran Ketupat sendiri semakin jarang dipahami oleh generasi muda saat ini. Untuk itu dirinya bersama warga lainnya mencoba memeliharan tradisi Lebaran Ketupat dan mengenalkannya kepada anak-anak dan generasi muda khususnya di Desa Sumbersalak.

Sementara itu, hari raya ketupat di dusun Karang Anyar desa Sumbersalak di pusatkan di area pemakaman umum setempat, warga sekitar berbondong bondong untuk mengikuti acara yang dilaksanakan tujuh hari pasca hari raya idul Fitri tersebut dengan membawa berbagai aneka lontong yang disertai lauk pauknya. Kegiatan yang dilaksanakan disalah satu pemakaman tertua tersebut, menurut Ust. Alwi,  bertujuan agar warga sekitar mengingatkan kembali akan kematian dan menyadarkan bahwa para pendahulu sangat membutuhkan doa dari anak cucunya yang ditujukan padanya “ ini mengingatkan kita pada kematian dan akhirat, sehingga kita disini tidak akan terlena dengan gemerlap dunia dan ingat pada Allah SWT dan selalu menjalankan kewajibannya dan menjauhkan larangannya.” Kata guru ngaji tersebut.

Lebih lanjut  dia menjelaskan bahwa setiap yang bernyawa di dunia ini pasti akan mati “ Kullunafsin Daikal Maut.  Artinya  Setiap yang bernafas pasti akan mati,” lanjutnya

Latifah, salah satu ibu Rumah Tangga mengatakan jika hari raya ketupat ini merupakan tradisi turun temurun yang harus tetap dilestarikan. Bahkan dia mengaku jika hampir setiap tahun keluarganya tetap merayakan lebaran katupat, “ saya dan keluarga hampir setiap tahun  merayakannya,  biasaya saya membuat beberapa kilo beras dan di bungkus dengan daun pisang dan di masak setelah masak lontong tersebut di campur dengan lauk  pauk dan opor ayam kemudian di bagikan ke kerabat atau tetatangga terdekat,” Ungkapnya

Seperti yang dilansir oleh kompasiana.com : Hari Raya Ketupat (kupatan) adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam merayakan Idul Fitri. Acara ini biasanya dilakukan  setelah seminggu setelah lebaran dalam kalender nasional.

Filosofi Kupat (Bahasa Jawa  : Ketupat )” sendiri ada yang yang memaknainya berasla dari gabungan kata “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Artinya, diantara kita pasti pernah berbuat salah. Melalui lebaran ketupat/kupatan ini bersama sama mengakui kesalah kita pada sesama dan saling memberi maaf dan menerima maaf secara bersama sama. One-Tires

About Desa Sumbersalak

Check Also

DSC_0080

Kenapa Piknik ke Desa Wisata Lebih Menarik, Ini Jawabannya

Apa kelebihan berwisata ke desa di banding wisata ke obyek-obyek modern buatan yang ada di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *