Home / PENDAMPINGAN BMI DAN KELUARGANYA / Arifa: Perjalanan Menjadi Manusia

Arifa: Perjalanan Menjadi Manusia

Nama saya Arifa, saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Cerita kecil saya sedikit berbeda dengan teman-teman yang lain. Waktu di bangku SD (Sekolah Dasar) kelas II selalu dibimbing oleh orang tuanya dengan sempurna. Beda dengan apa yang saya rasakan. Pada tahun 2006 saya ditinggal ayah dan ibu bekerja sebagai buruh migran di Malaysia. Saya dititipkan ke nenek, sedangkan kakak perempuan saya dititipkan ke paman ( adik kandung ibu ). Saya tidak tau pasti apa yang menyebabkan ayah dan ibu berangkat kerja ke Malaysia. Tiba-tiba saja toko di rumah mulai mengecil dan akhirnya ditutup. Kata orang, ayah ibu bangkrut karena bertani, hutang ayah dan ibu banyak sekali. Setiap bermain saya selau mendengar ibu-ibu di dekat rumah bilang “kasian ya si rifa, ditinggal ke Malaysia, kok bisa sampe bangkrut gitu”. Setiap mendengar kata kata itu saya sedih dan pasti pulang ke rumah nenek, walaupun saat ke rumah nenek, sering tidak ada orang. Karena saat siang, nenek biasanya kerja ke sawah sebagai buruh tani. Tidak ada tempat untuk mengadu, kakak perempuan saya sibuk dengan urusannya yang sudah duduk di bangku SMA kelas X.

Hari berganti hari, orang-orang sudah tidak ngomong sana sini tentang betapa kasihannya saya. Dengan begitu, saya bisa sedikit percaya diri untuk bermain dengan anak anak yang lain. Sejak ditinggal orang tua saya jarang belajar bahkan bisa dikatakan tidak pernah, karena tidak ada yang membimbing. Kakek nenek tidak paham apa-apa, karena dulu kakek dan nenek tidak sekolah hanya mondok saja. Saya hanya belajar di sekolah dan saya belum paham apa yang disampaikan guru di depan karena pikiran tidak konsentrasi tapi apalah mau dibuat itulah kenyataannya. Walaupun saya tidak paham dengan apa yang disampaikan guru, saya tetap sekolah karena kalau tidak sekolah akan tambah jenuh di rumah. Tidak ada teman. Kalau di sekolah, saya banyak teman bermain yang bisa membuat lupa tentang keadaan. Saat ujian semester nilai saya paling jelek. Saya naik kelas dengan percobaan, kalau saya tidak mampu saya diturunkan lagi ke kelas II. Waktu itu, hati saya sedih sekali. Ingin bertemu ayah dan ibu secepatnya. Pada waktu itu komunikasi masih sangat sulit. Handphone belum ada di desa, ibu menelpon satu minggu sekali dan jarak tempuh untuk menelepon sangat jauh. Saya dan kakak perempuan harus jalan kaki melewati sawah-sawah ke silo. Butuh waktu satu jam setengah untuk sampai. Setiap mendengar suara ibu, saya selalu menangis. Senang sekali rasanya mendengar suara ibu. Hanya ada satu jalan yang bisa membuat saya tidak sedih dan bisa lupa dengan ibu yaitu bermain bersama teman teman. Setiap hari, saat bermain saya selalu diajak untuk rujakkan. Saya tidak tau kalau sebelum makan tidak boleh makan rujak, karna tidak ada yang mengingatkan. Akhirnya saya sakit. Hampir dua bulan saya sakit. Segala macam cara dilakukan, dari pemeriksaan dokter, dukun pijat, dan syarat syarat yang lain sudah dicoba tapi tidak ada hasil sama sekali. Badan mulai kurus karena kesakitan. Tetangga saya saat datang menjenguk, pasti menangis karena badan saya sudah sangat kurus. Kulit sudah memutih pucat. Namun, Allah masih sangat menyayangi saya. Saya bisa sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa. Saya bisa sekolah lagi sama seperti yang lain.

Tahun 2008 ayah dan ibu datang dari Malaysia. Saya sangat bahagia. Tapi, tidak lama di rumah, ayah saya berangkat lagi ke Malaysia lewat PT. Dua tahun ayah di Malaysia namun perasaan saya beda dengan sebelumnya. Mungkin karena sudah diasuh ibu. Lima belas bulan ayah di Malaysia, lalu pulang. Tapi, setelah tiga bulan di rumah, ayah dan ibu berangkat lagi. Pada waku itu saya sudah sekolah di MTs Miftahul Ulum. Sebelum berangkat ibu mengantar saya ke pondok. Menyarankan saya agar mondok biar tidak susah kalau mau berangkat ke sekolah. Saya tidak kerasan di pondok karena belum terbiasa hidup di lingkungan pondok. Beberapa minggu saya mondok ada teman yang sering menemani. Saya senang karena sudah mulai punya teman. Saya tidak pernah berfikir kalau teman saya nakal dan tidak disukai para ustadza, bagi saya siapapun yang baik dia adalah teman baik. Karena berteman dengannya saya juga dianggap nakal. Saya sedikit merasa nyaman di pondok. Tapi pikiran saya belum berubah. Saya sekolah hanya untuk menghibur diri.

Ada hal yang membuat saya sangat sedih, yaitu setiap kali pembagian raport saya tidak pernah didampingi ayah dan ibu, teman-teman yang lain didampingi ayah ibunya. Sementara saya harus mengambil raport sendiri, walaupun terkadang tidak boleh diambil sendiri dan harus orang tua, sepertinya guru tidak begitu paham bahwa ada orang tua murid yang harus ke Luar negeri untuk bekerja. Mungkin dari kejadian-kejadian yang saya alami, sisi kemandirian mulai terbentuk. Saya selalu ingin merasa sama dengan mereka dan saya berfikir saya juga bisa seperti mereka, saya juga mau dipuji, saya juga mau dibanggakan, dan mendapat perhatian teman dan guru, saya mulai bisa memahami keadaan. Waktu duduk di kelas VIII, ada lomba saat Classmeeting disekolah, banyak lomba yang disediakan untuk mengasah kemampuan, saya memberanikan diri untuk mengikuti semua lomba yang ada hanya dengan modal percaya diri saja. Alhamdulillah dari beberapa lomba saya dapat nominasi terbaik juara I membaca puisi, juara 3 lomba bola voli dan juara 2 lomba pidato bahasa indonesia. Inilah pertama kalinya saya mendapat juara selama sekolah, saya merasa semakin semangat dan saya juga bisa seperti mereka.

Masih ada banyak misi yang belum saya buktikan kepada keluarga, saya mengikuti tiap lomba di pondok. Pada tahun ke 3, saya berhasil membuktikan kepada keluarga, bahwa saya menjuarai 4 lomba. Saya merasa sangat senang melihat keluarga yang hadir bisa tersenyum, walaupun ibu dan ayah tidak datang. Waktu kelas 3 MTs ibu pulang dari malaysia, saya senang karena saya berfikir ini adalah yang terakhir selama bertahun tahun saya ditinggal ibu tidak akan kembali lagi. Saya lulus didampingi ibu sampai masuk SMA. Rasanya senang sekali. Saya semakin bersemangat untuk sekolah dan rajin ke pondok.

Beberapa bulan masuk di SMA, saya terpilih menjadi anggota OSIS ( Organisasi Siswa Intra Sekolah). Beberapa bulan kemudian saya mendapat kabar ayah ditipu oleh mandornya. Uang hasil kerja ayah diambil dengan pura pura bilang akan membantu mengirimkan kepada pihak keluarga di rumah. ibu menyarankan ayah segera pulang saja. ayah pulang tak membawa uang seperti apa yang diharapkan keluarga. Saya berpikir setelah beberapa tahun ayah dan ibu kerja ke luar negri akan membenahi kesenjangan ekonomi keluarga dan tidak kerja ke luar negeri lagi. Namun, manusia hanya boleh menebak dan berencana, pandanganku tak semulus rencanaku, beberapa bulan ayah di rumah. Lalu ayah dan ibu saya kerja lagi ke Bali. Adik kecilku dibawa kerja ke Bali, tak tega rasanya. Namun waktu itu, saya masih sekolah dan tidak bisa membantu merawat adik. Hingga akhirnya saya lulus SMA saya masih sangat bersemangat untuk kuliah. Saya mencoba mencari beasiswa agar tidak terlalu membebankan orang tua. Saya harus berpendidikan agar bisa membantu keluarga, dan tidak ada yang namanya kesenjangan ekonomi lagi.

Tahun ini saya tidak dapat beasiswa seperti apa yang saya harapakan. Namun, ada peluang mengajar di RA Nuruzzaman, saya berfikir untuk mengambilnya. Saya mulai mengajar hanya dengan bekal semangat dan ilmu seadaanya, adik kecil saya sudah berumur 4 tahun, namanya Tian. sebentar lagi ia sekolah. Ibu pulang dari Bali bersama adik dan ayah. Beberapa hari kemudian ayah berangkat lagi ke Bali. Tapi saya merasa mulai tidak kesepian di rumah karena sudah ada ibu dan adik. Saya menyarankan kepada ibu agar Tian cepat sekolah, beberapa hari kemudian, Tian mulai bersekolah diantar ibu selama satu tahun, kemudian ibu pamit untuk pergi ke bali, ibu ingin membelikanku motor agar sewaktu mengajar tidak lagi jalan kaki. Tian tinggal bersama saya dan nenek.

Kegiatan harian saya bertambah mulai dari membuat sarapan, memandikan tian, dan sekolah. Saya tidak pernah berpikir kapan ini akan berakhir, yang saya pikirkan hanya bagaimana caranya saya menjadi pandai dan bisa membantu keluarga nantinya. Ibu pulang setiap 1 bulan sekali dari Bali, ibu membelikan saya motor sebagai transportasi mengajar dan mengantar tian untuk sekolah. Setahun sudah saya mengajar. Saya masih berpikir untuk kuliah dan mencari beasiswa lagi. Proses pengajuan beasiswa saya urusi sendiri hanya berbekal percaya diri saja dan yakin pasti bisa dan tidak lupa selalu meminta do’a orang tua. Proses ini membuat saya semakin kuat. Alhamdulillah, saya berhasil mendapat beasiswa S1 di IAIN Jember, Fakultas Dakwah Jurusan Management Komunikasi Dan Penyiaran islam (KPI). Saya sangat bersyukur bisa kuliah dan semua itu tidak lepas dari motivasi orang tua yang selalu memberi semangat dan do’a. Kuliah dengan ekonomi yang pas pasan. Saya mencoba membantu orang tua agar tidak terlalu banyak meminta uang, sambil kuliah saya jualan kue lumpia, keuntungan dari kue buat makan sehari dan kebutuhan lainnya. Saya tidak merasa sedih karena hidup yang berbeda. Waktu saya untuk membaca sangat sedikit dan itu harus di jadwal. Kehidupan sehari hari harus teragenda dengan baik agar tidak ada waktu yang terbuang sia sia. Saya selalu ingat satu pesan dari dosen “bagaimana anda akan menjadi orang yang luar biasa jika usaha yang anda lakukan hanya biasa – biasa saja “. Sekarang saya sudah Semester 7 di IAIN Jember.

“Bermimpilah tentang apa yang kamu impikan, pergilah ke tempat di mana kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal hal yang ingin kamu lakukan”

About Desa Sumbersalak

Check Also

Camera 360

LEBIH ENAK KALAU ADA IBU

Lailatul faizah adalah salah satu anak yang mandiri. Sudah tiga tahun dia ditinggal oleh ibunya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *