Home / Kabar Desa / PENGRAJIN ASBAK YANG KINI MANGKRAK

PENGRAJIN ASBAK YANG KINI MANGKRAK

“Pengen kerja Asbak lagi”, kata Taufik, salah satu pengrajin asbak di Desa Sumbersalak. Bapak dengan satu anak ini berharap agar ada orang yang membeli asbaknya lagi. Kini mesin gergaji miliknya mangkrak, tak berguna, dan tak berdaya lagi sejak tahun 2015 sampai sekarang. Usahanya terhenti karena tempat untuk pemasok asbaknya di Bali juga berhenti.

Saat ditemui dirumahnya, ia mengatakan sudah 3 tahun menggeluti usaha membuat asbak sejak tahun 2012 sampai 2015. Sekarang mereka memilih bertani saja karena tidak ada  tempat untuk pemasok asbaknya.

Usaha asbak ini berdiri dari tahun 1996, didirikan oleh pensiunan buruh rel kereta api, Haji Syafi’i. Ia adalah mbah mertua dari Taufik. Untuk memulai usahanya mereka pakai modal sendiri. Mereka merakit sendiri mesin gergaji sederhana dengan menggunakan tenaga listrik. Mesin rakitannya dipakai bertahun-tahun sampai usahanya berhenti.

“Tidak langsung bagus, tapi sering gagal, kata Haji Syafi’i”. Dalam membuat asbak, mereka hanya berbekal kemauan saja  karena memang sebelumnya tidak pernah membuat asbak sehingga setelah berkali-kali mencoba barulah kerajinannya layak dijual. Untuk tempat pemasokan di Bali, mereka dibantu oleh saudaranya yang bekerja sebagai kuli disana.

Awalnya kerja sendiri, dan mendapat omset pertama yang sebesar Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Jumlah pendapatan tersebut sudah besar bagi mereka di tahun 1996. Namun karena semakin banyaknya pesanan maka mereka mengajak saudara dan tetangga untuk bekerja dipabriknya sehingga usaha ini mengalami perkembangan pesat pada tahun 2012 sampai 2014. Keuntungan yang diraup cukup tinggi, antara Rp 500.000 sampai Rp 3.000.000/ bulan.

Modelnya bermacam-macam, ada yang berbentuk kura-kura, bebek, gajah, dan lain-lain. Sedangkan ongkos untuk pekerjanya tergantung dari jumlah pengiriman. Jika semakin banyak asbak yang dipesan maka ongkos pekerja juga banyak dan sebaliknya. Asbak bagi mereka sudah menjadi penghasilan utama untuk menghidupi keluarganya sehari-hari.

Kini, mereka bekerja sebagai buruh tani karena tidak ada lagi tempat pemasok asbak. “Pengen kerja asbak terus. Tapi  sampai sekarang gak ada tempat pemasok lagi”, tutupya. (Didik-Red)

About Desa Sumbersalak

Check Also

IMG-20180910-WA0076

WARGA SUMBERSALAK SAMBUT TAHUN BARU ISLAM DENGAN PAWAI OBOR

RATUSAN  Santri, siswa, dan masyarakat  desa Sumbersalak mengikuti arak arakan pawai obor menyambut tahun baru …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *