Home / JURNALISME WARGA / Kisah Anak Buruh Migrant:Pesan Untuk Ibu di Malasyia

Kisah Anak Buruh Migrant:Pesan Untuk Ibu di Malasyia

Camera 360Tak pernah terlintas dibenak Defa akan menjalani hidup seperti saat ini. Dia lahir 9 tahun yang lalu di Dusun Juroju, Desa Sumber Salak Kecamatan Ledokombo- Jember. Dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Waqi’ dan ayahnya bernama Awi. Di usianya yang masih sangat kecil, dia harus kehilangan kasih sayang dari orang tuanya karena perceraian. Setelah bercerai, ayahnya memutuskan untuk kembali kerumah kelahirannya di Dusun Petung, dusun yang masih berdekatan dengan tempat anak dan istrinya tinggal. Setelah ayahnya pergi, Defa tinggal bersama ibu. Tak berselang lama, ibunya juga memutuskan untuk pergi bekerja ke luar negeri. Negara tujuannya Malasyia. Alasan utama, tentu karena himpitan ekonomi. Kini Defa kecil tinggal bersama kakek dan neneknya.

Jember merupakan daerah penyumbang buruh migrant nomor 2 se-Jawa Timur dan desa Sumbersalak adalah salah satu desa kantong buruh migrant terbanyak di kabupaten Jember. Meskipun desa ini memilki potensi alam yang berlimpah, namun tetap tak dapat membendung para penduduknya untuk bekerja ke luar negeri. Hal ini disebabkan karena hampir semua penduduknya adalah buruh tani dan tidak memiliki keahlian lain. Upah buruh tani yang hanya Rp. 25.000/hari tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sudah pasti lebih besar. hal ini juga yang menimpa keluarga Defa. Setelah kepergian ayahnya, ibunya secara otomatis menjadi tulang punggung keluarga. Karena tidak memiliki keahlian selain buruh tani, ibunya memutuskan untuk pergi ke Malasya, menjadi pekerja rumah tangga, dan tentu berharap mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Tiga tahun sudah, setelah ibunya memutuskan untuk bekerja sebagai buruh migran, Defa hanya dapat mendengar suara ibunya melalui Handphone. Itupun hanya dapat ia dengar satu minggu sekali, dua minggu sekali bahkan lebih dari itu. Karena kakek dan neneknya tidak dapat mengoprasikan Handphone, jadi Defa harus menunggu ibunya menelepon melalui tetangganya. Selama 3 tahun ini, ibunya selalu memberi kabar dan mengirimi uang untuk kebutuhan Defa sekolah dan sehari-hari. Sementara ayahnya, semenjak bercerai, tidak pernah mengunjunginya sama sekali.

Setelah tiga tahun berlalu, rasa ingin jumpa dengan sang ibu dirasakan Defa. Ingin melihat wajahnya, mencium, dan memeluknya. “Aku rindu ibu, ingin melihat wajahnya,” kata Defa. Di usianya yang beranjak 9 tahun Defa membutuhkan sosok ibu di sampingnya.

Save

About Dyah Kurnia

Check Also

Exif_JPEG_420

Derita TKI, 2 Tahun tidak memberi kabar

Kisah pilu tenaga kerja Indonesia atauTKI seakan tiada henti. seperti yang dialami Hatipa alias B. Hotim, TKW …

2 comments

  1. Semoga diberi ketabahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *