Home / Kabar Desa / Jurnalisme Desa Dongkrak Ekonomi, Bikin Wartawan Abal-Abal Minggat

Jurnalisme Desa Dongkrak Ekonomi, Bikin Wartawan Abal-Abal Minggat

jurnalisme-desa-dongkrak-ekonomi-bikin-wartawan-abal-abal-minggat_m_26125Lazimnya, sarjana yang baru lulus, akan memilih untuk merintis karier di kota. Namun terdorong keinginan untuk membangun kampung halaman, Iwan Joyo Suprapto memilih jalan yang tak lazim: pulang dan mengembangkan potensi desa kelahirannya.

Kesibukan tampak terlihat dari Iwan Joyo Suprapto. Meski demikian, dia masih tetap ramah melayani permintaan wawancara dari Jawa Pos Radar Jember. “Lagi siap-siap mau berangkat ke bandara. Ada undangan acara di Bogor,” tutur Iwan saat ditemui Senin (06/11) pagi.

Iwan saat itu tengah bersiap untuk menghadiri sebuah acara pelatihan bagi anak buruh migran yang diadakan di Bogor. Advokasi dan pemberdayaan keluarga buruh migran memang menjadi salah satu upaya yang dilakukan banyak orang di Ledokombo. Maklum saja, beberapa desa di Ledokombo selama ini dikenal sebagai kantung penyumbang pengiriman buruh migran di Jember.

“Kebetulan saya juga aktif di Komunitas Tanoker, jadi disuruh mewakili untuk kemudian transfer ilmu,” lanjut Iwan. Komunitas Tanoker yang dikenal antara lain dengan festival Egrangnya, selama ini memang menjadikan advokasi dan pemberdayaan keluarga buruh migran sebagai perjuangan utamanya.

Sayangnya, banyak warga di beberapa desa di Ledokombo yang berangkat bekerja ke luar negeri sebagai buruh migran, tanpa dilengkapi dokumen resmi, alias TKI Ilegal. Problem ini tidak lepas dari kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan sebagian besar warga yang membuat mereka mudah menjadi sasaran empuk sindikat mafia TKI.

Berangkat dari keprihatinan itulah, Iwan memutuskan untuk kembali ke desanya. Tahun 2013, Iwan baru saja menggondol gelar sarjana komunikasi dari Fakultas Dakwah IAIN Jember (saat itu masih bernama STAIN Jember). Menjadi sarjana memang bukan kesempatan yang bisa dengan mudah diraih begitu saja oleh pemuda di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, desa kelahiran Iwan. Namun, Iwan merasa mantap untuk “membuang” kesempatan berkarier di kota. “Saya ingin membangun desa kelahiran saya, biar bisa lebih maju dan tidak kalah dengan wilayah di kota,” tutur Iwan.

Pulang ke Desa Sumbersalak, Iwan langsung aktif dalam beberapa kegiatan masyarakat. Salah satunya adalah di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sumbersalak. Bergabung di BPD, membuat kepekaan sosial Iwan terhadap permasalahan desa menjadi kian terasah. Berangkat dari kondisi di desanya, Iwan berinisiatif untuk mendirikan komunitas jurnalisme berbasis masyarakat desa.

“Saya ingin memperkenalkan potensi desa saya, agar bisa maju seperti desa-desa lain. Karena sebenarnya Desa Sumbersalak ini punya banyak potensi untuk dikembangkan,” jelas Iwan.

Dengan menghimpun 13 pemuda dari 4 dusun yang ada di Desa Sumbersalak, Iwan lantas menamakan kelompok jurnalisme warganya dengan nama Tires, atau kepanjangan dari Tim Redaksi Sumbersalak. “Saya mengajak pemuda desa yang punya kemauan, ikhlas tanpa pamrih untuk memajukan desa,” tutur pemuda asal Dusun Paluomboh.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, Tires mulai hadir di dunia maya pada pertengahan 2015. Kelahiran Tires bertepatan dengan ditetapkannya Sumbersalak sebagai desa Peduli Buruh Migran oleh Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri.

Saat awal kemunculannya, Tires masih muncul dalam tampilan yang cukup sederhana. Lambat laun, mereka mulai mempercantik tampilan sehingga menarik kunjungan warganet di dunia maya. Berbagai postingan -baik tentang peristiwa desa maupun potensi ekonomi- mulai rutin mereka suguhkan, setidaknya setiap dua minggu sekali.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, diakui Iwan tantangan justru terletak pada kerja sama dengan perangkat desa selaku pemangku kepentingan. Niat baik mereka tak selalu bersambut dengan baik. “Awal-awal kita sempat diremehkan. Karena mungkin terkait dengan mindset ya, beda pemikiran mungkin,” tutur Iwan.

Beruntung, berkat upaya terus-menerus, lambat laun upaya memajukan potensi desa melalui jurnalisme warga, mulai mendapat sambutan positif dari perangkat desa. “Pak Kades sekarang sangat mendukung keberadaan kami,” jelas Iwan.

Melalui Tires, Iwan dan rekan-rekannya giat mempromosikan dua potensi wisata air terjun yang ada di Desa Sumbersalak, yakni Air Terjun Damarwulan dan Air Terjun Sumbersalak. “Alhamdulillah, promosi lewat sosial media itu cukup efektif. Kebetulan dua lokasi wisata dikelola masyarakat desa kita sendiri. Jadi dari, oleh dan untuk masyarakat,” tutur putra pasangan Sukri dan Sumarni ini.

Sesuai misi awal, Tires tak sekadar mengabarkan berita dan potensi desa. Mereka juga giat mengadakan berbagai upaya pemberdayaan ekonomi desa. Antara lain dengan pembentukan Badan Usaha Masyarakat Desa (Bumdes) Sumbersalak pada tahun 2016. Selain mendampingi produk kuliner dan jamu olahan, saat ini Tires juga memiliki usaha mikro di bidang ternak lele. “Ke depan, kita akan menambah lini usaha dengan mendirikan outlet untuk menampung produksi olahan ibu-ibu warga Sumbersalak. Serta juga kafe,” jelas Iwan dengan semangat.

Tak hanya di bidang ekonomi. Para relawan anggota Tires juga bahu-membahu membantu pengurusan administrasi kependudukan. Tidak cuma untuk syarat bekerja ke luar negeri, pengurusan dokumen kependudukan ini juga penting agar warga desa bisa mendapatkan layanan gratis dari berbagai instansi pemerintah, seperti akses pendidikan dan kesehatan. “Jadi, jika ada warga desa yang sakit, kami bantu proses rujukannya ke rumah sakit,” jelas pria kelahiran tahun 1986 ini.

Untuk meningkatkan kualitas anggota relawannya, Tires juga aktif mengadakan berbagai pelatihan. Seperti pelatihan jurnalisme warga yang menggandeng pengurus AJI Jember pada akhir 2016 lalu. “Inisiasi jurnalisme desa ini cukup bagus untuk semakin menambah semangat warga desa menggali potensinya. Karena media mainstream saat ini, jarang yang mau terjun ke desa-desa, juga karena faktor kooptasi,” tutur Friska Kalila, ketua AJI Jember yang saat itu diminta menjadi pemateri di balai Desa Sumbersalak.

Geliat Tires juga berpengaruh pada aspek kehidupan sosial warga. Wartawan abal-abal -sebutan untuk orang yang mengaku-aku sebagai wartawan- sebelumnya cukup banyak berkeliaran di sekitaran Ledokombo. “Sejak ada Tires, wartawan abal-abal banyak yang menghilang dari sini. Sebelumnya mereka suka minta-minta uang kalau kita ada kegiatan. Padahal, kita cari uang juga susah payah,” ujar Suporahardjo, salah satu inisiator Komunitas Tanoker kepada Jawa Pos Radar Jember beberapa waktu lalu.

Upaya pemberdayaan warga lewat jurnalisme warga ini rupanya menarik perhatian para akademisi. Beberapa waktu lalu, mahasiswa program doktoral dari University of California, menyempatkan datang ke Sumbersalak, yang ada di pelosok utara Jember untuk belajar, menggali data dan berdiskusi seputar Tires. “Mereka ingin belajar tentang mantan buruh migran di Thailand yang ada di sini, serta upaya pemberdayaannya,” pungkas Iwan.

(jr/ad/hdi/das/JPR)

Di kutip dari

https://www.jawapos.com/radarjember/read/2017/11/12/26125/jurnalisme-desa-dongkrak-ekonomi-bikin-wartawan-abal-abal-minggat

About Desa Sumbersalak

Check Also

aaaa

PEMBINAAN  PENINGKATAN KAPASITAS ANGGOTA LINMAS DESA SUMBERSALAK  

Tim Redaksi Sumbersalak (Tires)  – Untuk meningkatkan Kapasitas  Anggota Linmas, Pemerintah Desa Sumbersalak  mengadakan pembinaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *