Home / Kabar Desa / Mohamad Ali dan Siti Latifah, Pasangan Pendamping Buruh Migran di Ledokombo

Mohamad Ali dan Siti Latifah, Pasangan Pendamping Buruh Migran di Ledokombo

Exif_JPEG_420
salah satu Kesibukan Mohammad Ali ketika menjadi Panitia Napak Tilas Pahlawan Nasional Alm KHR. As’ad Samsul Arifin

Kesibukan tampak terlihat di sebuah rumah sederhana yang ada di Dusun Paluombo, Desa Sumbersalak Kecamatan Ledokombo. Seorang perempuan paruh baya tampak sibuk membolak-balik dokumen umtuk merancang sebuah proposal sebuah program.

“Ini sedang membuat program rencana mengadakan sekolah bagi ibu-ibu di desa kami,” tutur perempuan paruh baya bernama Siti Latifah itu. Tak lama berselang, sang suami, Mohamad Ali yang dikenal sebagai guru ngaji di dusun tersebut, turut berbincang mendampingi Jawa Pos Radar Jember.

                Sekolah ibu-ibu, merupakan salah satu pengembangan yang diisisiasi Siti Latifah, sebagai bagian dari upaya pengembangan masyarakat di desanya. Dalam menjalankan misinya, ia dibantu Enik Jumiati. Dan sejak beberapa bulan terakhir, mereka aktif mengembangkan keterampilan dan kemampuan para ibu yang ada di salah satu desa di Kecamatan Ledokombo tersebut.

                Upaya pendampingan perempuan tersebut menjadi salah satu pengembangan dari upaya yang dirintis Latifah bersama sang suami, Mohamad Ali.

Sejak tiga tahun terakhir, pasangan tersebut memang kompak saling bahu-membahu untuk mengurai benang kusut problematika buruh migran yang ada di desanya. Kesadaran untuk menjadi relawan pendamping TKI itu bermula dari keprihatinan Ali sebagai guru ngaji di dusun Paluombo, Desa Sumbersalak.

“Anak-anak yang ditinggal orang tuanya, terutama ibunya untuk bekerja ke luar negeri, saya jadi merasa iba. Mereka seperti butuh kasih sayang,” tutur Ali.

                Dari situlah, Ali bersama sang istri, Siti Latifah tergerak untuk membuat sebuah gerakan advokasi bagi para buruh migran beserta keluarga yang ada di desanya, Sumbersalak. Pengetahuan dan keterampilan seputar strategi advokasi bagi buruh migran mereka peroleh antara lain sejak bergabung dalam komunitas Tanoker yang ada di Desa Ledokombo.

Selain itu, selama beberapa kali, mereka bersama relawan lain di Kecamatan Ledokombo juga memperoleh pelatihan dan program dari beberapa LSM baik lokal maupun asing.

                Salah satu advokasi yang paling berkesan yang mereka lakukan adalah saat mendampingi Juto, warga desa setempat yang bermasalah ketika bekerja ke luar negeri.  Ia merasa trenyuh dengan nasib tetangganya itu saat bekerja di Malaysia.

Saat itu, Juto tidak mendapat gaji dan uang lembur yang sudah seharusnya menjadi haknya. “Pak Juto juga akan dipulangkan dalam kondisi sakit paru-paru. Selama bekerja di Malaysia, beliau tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dari majikannya,” jelas pria yang menyelesaikan pendidikan terakhirnya di SMAN 1 Pamekasan ini.

                Melalui kerjasama dengan Migrant Aid Indonesia, Ali bersama rekan-rekannya kemudian bisa membantu mengurus nasib Pak Juto, dengan perantaraan Kedubes RI di Malaysia. Setelah melalui proses yang melelahkan selama lebih dari 3 bulan, kasus tersebut akhir berakhir happy ending.

Karena takut dengan ancaman hukuman, majikan Pak Juto akhirnya bersedia membayar gaji dan uang lembur serta memberikan layanan medis yang layak. Meski demikian, tidak semua kasus yang ia dampingi bisa berakhir dengan baik.

“Akhir 2016, kami membantu mencari nasib seorang TKW asal Desa Sumbersalak yang hilang di Timur Tengah. Selama beberapa tahun, tidak ada kabar. Sudah kami upayakan ke Disnaker Jember, tapi sampai sekarang tidak ada kabar,” keluh Ali.

                Pendampingan juga mereka berdua lakukan terhadap anak-anak yang ditinggal orang tuanya untuk menjadi buruh migran. Setiap hari, pada sore hari seusai mengaji, Ali mengajak anak-anak buruh migran itu untuk bermain bersama dengan rekan-rekan sebayanya. Membaur menjadi satu untuk menumbuhkan keceriaan. “Saya ajak permainan tradisional seperti gobak sodor, benteng, main karet dan sebagainya. Biar mereka enggak pusing belajar dan mengerjakan PR dari sekolahnya,” lanjut Ali.

                Di sela-sela bermain, Ali juga menyempatkan untuk mengunggah video mereka ke akun facebooknya yang bernama “Mohamad Ali”. Video itu juga menjadi pengobat rindu bagi orang tuanya yang sedang berada ribuan kilometer demi mencari nafkah. “Sesekali juga saya hubungkan mereka lewat video call. Karena kebetulan di desa ini, yang sinyal internetnya bagus, cuma di sekitar rumah saya,” tutur pria kelahiran 20 Maret 1967 ini.

                Salah satu langkah awal pendampingan yang mereka lakukan adalah dengan melakukan pendataan terhadap buruh migran yang ada di desa Sumbersalak. “Pendataan terakhir yang kami lakukan pada tahun 2016 kemarin, ada 154 buruh migran di Desa Sumbersalak. Mayoritas mereka berangkat dari jalur resmi dan tidak terdata di lembaga pemerintah,” tutur pria asal Pamekasan yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Wafa, Silo, Jember.

                Pendataan, menurut Ali merupakan salah satu kunci dalam mengurai benang kusut problematika penanganan buruh migran. Sebab banyak diantara mereka yang menjadi TKI ilegal sehingga potensial menjadi mangsa empuk sindikat perdagangan manusia. Kondisi ini tidak terlepas dari masih minimnya tingkat pendidikan calon TKI sehingga abai terhadap masalah dokumen kependudukan dan prosedur resmi keberangkatan kerja ke luar negeri.

                Dalam melakukan pendataan, Siti Latifah menjadi salah satu ujung tombaknya, bersama ibu-ibu yang lain. Terlebih, Latifah juga memiliki sebuah lembaga pendidikan setingkat PAUD di sebelah rumahnya. Kegiatan ibu-ibu atau kakek-nenek ketika mengantarkan anak untuk bersekolah, menjadi salah satu momentum bagi Latifah untuk memulai pendataan.

Selain itu, ia juga berkeliling ke tetangganya di berbagai penjuru Desa Sumbersalak, untuk melakukan pendataan. Langkah pendataan ini ia lakukan sejak tahun 2012. “Dari situ, saya mendapatkan keluh kesah dan curhat mereka, tentang kegetiran ketika anggota keluarga harus pergi jauh ke negeri seberang untuk mencari nafkah,” jelas perempuan asli Desa Sumbersalak ini.

                Dari situlah, Latifah memiliki pandangan bahwa bekerja menjadi TKI di luar negeri, bukan merupakan pilihan ideal. Karenanya, ia mulai sering memotivasi warga di desanya, agar mendorong anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan atau keterampilan sebaik mungkin.

“Agar kalau nanti anak-anak kita pergi ke luar negeri, bukan lagi sebagai buruh kasar. Tetapi mereka pergi ke luar negeri sebagai tenaga terampil atau untuk kuliah,” jelas perempuan kelahiran 12 Maret 1974 ini.

                Latifah mengakui, sesekali ia juga merasa jenuh untuk melakukan aktivitas pendampingan bagi keluarga buruh migran di desanya. Namun ia merasa mendapatkan berkah dari aktivitas tersebut, hingga kemudian membuang jauh-jauh rasa jenuh tersebut.

Salah satu berkah yang ia rasakan adalah ketika putri sulungnya, Nur Izzatul Maulidah,  mendapatkan beasiswa program master bidang pertanian di National Chiayi University, Taiwan. Sang putri mendapatkan beasiswa itu sejak tahun lalu, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Brawijaya. “Ini kebetulan anak saya lagi libur kuliah, jadi bantu-bantu untuk menularkan ilmu pertanian ke ibu-ibu di sini,” jelas Latifah.

                Bermula dari pendampingan sederhana, kini Latifah mulai membangun sekolah ibu-ibu di desanya. Untuk program ini, ia dibantu oleh tetangganya, Enik Jumiati yang merupakan mantan buruh migran. Kegiatan yang mereka sebut “Sekolah Bok-Ebok” (bahasa Madura, red) ini sejatinya merupakan forum untuk belajar bersama bagi para perempuan, termasuk mantan buruh migran, agar bisa memiliki keterampilan untuk mandiri sekaligus transfer ilmu bagi keluarganya.

Yang terbaru, kini mereka juga mulai membentuk kelompok usaha bersama (KUBE) di bidang kuliner. “Selain kue-kue, kita juga berupaya untuk membuat kopi yang kita beri merek “Kopi Ndeso”. Sejauh ini masih proses mengurus perizinannya. Sebab, komoditas kopi di sini kerap dijual murah karena keluarga petani terjerat siklus rente,” pungkas Latifah. (Adi Faizin/RAdar Jember)

Dikutip dari koran Radar Jember

About Desa Sumbersalak

Check Also

IMG-20171028-WA0023

Mantapkan kinerja Pengurus, Pengurus UKPK IAIN JEMBER adakan Rapat Kerja di desa sumbersalak

Pengurus baru salah satu di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) IAIN Jember yang tergabung dengan Unit …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *