Home / Kabar Desa / Tentang Desa / Menelusuri Jejak Buyut Sanam

Menelusuri Jejak Buyut Sanam

Suatu daerah pasti memiliki sosok yang dianggap sebagai orang yang pertama tinggal di daerah tersebut. Begitupun dusun Juroju Desa Sumbersalak , adalah Buyut Sanam yang dianggap menjadi orang pertama yang membangun dusun tersebut. Panggilan ‘Buyut’ disematkan karena merupakan sesepuh dan penambahan kata ‘Sanam’ setelahnya karena sesuai dengan nama anak pertamanya. Oleh karena itu sampai sekarang masyarakat Juroju dan sekitarnya tetap mengenal dengan panggilan Buyut Sanam.
Buyut sanam memiliki banyak saudara, menurut narasumber nenek Juhairiyah yang merupakan keturunan kelima dari buyut sanam mengungkapkan bahwa beberapa saudara dari buyut sanam adalah Bujuk Adhi (dusun Salak), buyut Gendok (kalisat), bahkan menurut penuturannya buyut sanam masih memiliki hubungan keluarga dengan Datok Ibrahim (Banyuwangi). Buyut sanam berbesan dengan saudaranya sendiri yakni buyut Gendok. Perjodohan tersebut terjadi karena sesumbar yang diungkapkan oleh buyut Sanam kepada buyut Gendok. Seperti berikut ini:
“Engkok andik anak lake’, be’en andik anak bini’. Engkok abisannah be’en le’”. Kata buyut sanam
(aku punya anak laki-laki, kamu punya anak perempuan. Aku mau berbesan denganmu dek)
“Kor bisah be’en masok ka disah kalisat, tekah be’en se abisannah engkok kak”. Jawaban sekaligus tantangan dari buyut gendok.
(kalau kamu bisa masuk ke Desa kalisat, bisa kamu berbesan denganku kak)

Setelah beberapa waktu, akhirnya buyut sanam bisa masuk ke Desa Kalisat yang saat itu dijaga ketat oleh tentara Belanda. Padahal jika dalam pengawasan Belanda, tak sembarang orang bisa keluar masuk dengan mudah di Desa lain.
Sesampainya dikalisat buyut sanam berkata,“yak engkok la depak kadisah kalisat lek”.
(kini aku sudah sampai di desa kalisat dek)
“ Be iyeh kak, tekah been abisanan engkok”. Jawab buyut gendok
(oh iya kak, jadi kamu berbesan denganku)

Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi antara buyut sanam dan buyut gendok. Percakapan ini turut dipraktikkan oleh nenek juhairiyah. Putra Buyut sanam dan buyut gendok mendapat panggilan buyut dhina setelah dikarunia seorang anak yang diberi nama dhina. Namun sayangnya putranya itu meninggal sebelum dewasa. Putra buyut dhina yang lain diantaranya saidin (buyut ghina), buyut tenggi, sadran, asteno, dan masjan. Nenek juhairiyah adalah keturunan dari buyut ghina, jika diurut seperti berikut ini:

Buyut sanam, buyut dhina, buyut ghina, buyut H. Ahmad Abidin, kemudian nenek juhairiyah.

Menurut penuturan nenek juhairiyah, sesuatu yang dianggap kelebihan dari buyut sanam adalah jika seseorang menginginkan sesuatu maka mintalah dimakam buyut sanam, tepat disebelah barat makam tersebut dan menghadap ketimur selama tujuh hari tujuh malam. Misalnya saja dulu waktu musim adu jangkrik atau sapi, pasti ada yang datang dan tinggal dimakam tersebut selama masa yang ditentukan. Asal kuat sama rintangan-rintangan yang ada, pasti apa yang diinginkan akan didapatnya. Rintangan tersebut biasanya berupa hewan raksasa, bisa ular,macan dan lain-lain.
Keistimewaan dari putra buyut sanam yaitu buyut dhina adalah mandhi dalam uacapan. Kemanapun beliau pergi pasti membawa ‘bungbung’, adalah temapat yang terbuat dari bambu tanpa dibalah, gunanya sebagai tempat untuk berludah. Menurut buyut nenek juhairiyah hal itu dilakukan karena buyut dhina tidak ingin kalau anak cucunya sampai menginjak ludah tersebut.
“deddi apah tang nak potoh pas”. Itulah kata buyut dhina (disampaikan oleh nenek juhairiyah)
(‘jadi apa anak cucuku nantinya’. Maksudnya adalah jika sampai menginjak air ludah dari buyut dhina yang terkenal mandhi pengucap). Bungbung tersebut selalu menemani buyut dhina kemanapun beliau pergi, dan jika bertemu dengan aliran sungai yang deras, bungbung tersebut dicuci hingga bersih.
Sisi lain dari buyut dhina adalah seorang pemburu yang sangat hebat. Apapun yang menjadi buruan, pasti didapatnya. Cerita dari nenek juhairiyah, adalah ketika burung dara buyut dhina dimakan elang, maka burung elang itu dikejar buyut dhina sambil membwa senapan. Dan elang itupun tertangkap. Keistimewaan lain dari dari buyut dhina adalah jika buyut dhina bepergian kemadura naik pohon pisang atau juga krocok (kulit bunga kelapa yang sudah kering).
Diceritakan juga jika buyut dhina sedang tirakat, buyut dhina mencampurkan pasir didalam beras yang akan dimasaknya. Saat makan, pasir tersebut sembari disisihkan dan dimakan nasinya saja. Tujuannya adalah supaya ketika makan tidak selalu merasa nyaman atau dalam suasana enak saja.
Semua hal yang diatas tinggallah cerita. Karena sosok mareka telah berada di liang lahat. Saat ini makam buyut sanam berada tepat dibalakang SDN Sumbersalak 04. Sedangkan makam putranya, yakni buyut dhina berada di petung. Untuk makam putra-putri buyut dhina adalah sebagai beriku:
1. Buyut Gina : juroju paling barat ditengah kebun menuju air terjun Sumbersalak.
2. Buyut Tenggi : di slateng.
3. Buyut Sadran : juroju barat tepat dibelakang rumah pak H. Saiful.
4. Buyut Asteno : juroju barat disebelah timur rumah Bu Lutfi.
5. Buyut Masjan : juroju di belakang rumah pak H. Nawardi.
Buyut dhina pernah berkata dan sekaligus pesan kepada anak cucunya, bahwa selama tujuh turunan buyut dhina tidak meridhoi kalau pinjam unag Bank. Ini terjadi karena ada salah satu putra dari buyut dhina yang menjadi sensara akibat pinjam uang dari bank. Pesan tersebut juga tetap disampaikan oleh nenek juhairiyah kepada anak cucunya sampai saat ini.

About Siti Masruroh

Check Also

IMG_7424

Tentang Desa Sumbersalak

A. Demografi Berdasarkan data administrasi pemerintahan desa tahun 2010, jumlah penduduk Desa Sumbersalak terdiri dari …

One comment

  1. Waaaahhh ………bisa dijadikan kawasan wisata religi di sumbersalak…. Semangat terus untuk menulis untuk sumbersalak….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *