Home / Kabar Desa / Mencegah Tindak Kekerasan pada Anak Lewat ‘Rumah Curhat’ dan Film

Mencegah Tindak Kekerasan pada Anak Lewat ‘Rumah Curhat’ dan Film

Sore itu, Kamis, 24 Februari 2016 Mushola At Taufiq di dusun Paluombo, Desa Sumbersalak cukup ramai dibanding hari-hari biasanya. Satu persatu para ibu berdatangan dan memasuki Mushola. Tapi kali ini tidak mengenakan mukena ataupun alat shalat lainnya. Para ibu datang hanya mengenakan pakaian sehari-hari. Ada ibu yang membawa anaknya yang masih kecil. Ada yang sambil menyuapi anak serta ada pula yang sambil menggendong. Di ruangan mushola sederhana itu, ada satu lemari kaca yang berisi karya anak, ada juga rak buku kayu yang berisi buku-buku pelajaran dan bacaan. Karena, anak-anak yang datang biasanya akan membaca sebelum memulai ataupun setelah mengaji. Saat itu, Mushola menjadi ruang belajar untuk ibu-ibu.

Ibu-ibu yang sudah berdatangan, hampir memenuhi ruangan mushola yang tidak begitu luas itu. Sudah tersedia juga beberapa media yang ingin dimanfaatkan dalam pertemuan. Ada LCD,Laptop gunting, karton warna warni, lem serta majalah-majalah yang beragam. Waktu menunjukkan jam 14.00 WIB, ketika acara pertemuan akan dimulai. Ada tujuh belas ibu dan tiga orang pendamping yang siap memfasilitasi ibu-ibu untuk pertemuan . Seperti biasa, setiap dua minggu sekali, Tanoker Ledokombo melakukan pendampingan bagi para ibu di Dusun Paluombo. Tidak seperti pendampingan biasanya yang fokus pada gerakan ekonomi lewat penjualan makanan ringan, kali ini ibu-ibu di ajak untuk ngobrol santai di “Rumah Curhat” yang dibangun sebagai bentuk kepedulian kepada ibu-ibu yang setiap hari bekerja keras untuk keluarga. Sehingga, akan lebih ringan rasanya, jika persoalan yang dihadapi para ibu didiskusikan dan berbagi dengan ibu-ibu yang lain. Dan “Rumah Curhat” yang dibangun memberikan ruang seluas-luasnya bagi para ibu untuk bercerita apa saja.

IMG_4386
Para ibu sedang berbagi informasi di ‘rumah curhat’ (Dokumentasi oleh Yuliyanto)

Pertama-tama, para ibu di ajak untuk berbincang mengenai persoalan ringan seputar keluarga, terutama anak. Juga persoalan kesehatan, kanker payudara yang bisa dialami oleh laki-laki ataupun perempuan, mengenai KB hingga alat kontrasepsi lainnya. Di awal , respon para ibu masih malu-malu saat membahasnya tapi tetap santai. Hanya agak bingung dan ada hal-hal yang sulit untuk mereka ceritakan, seperti hal-hal seputar kesehatan reproduksi. Bagi masyarakat dibanyak daerah, termasuk di Paluombo, tentu hal tersebut masih sangatlah tabu dan sulit untuk dibahas. Kemudian salah satu pendamping, Sisillia mengajak para ibu untuk membuat kronologi mengenai pengalaman hidup mereka dari lahir sampai kemudian menjadi seorang ibu seperti sekarang, dengan menggunakan media yang sudah disediakan. Caranya, para ibu menggunting gambar-gambar yang ada di majalah yang sudah disediakan. Gambar yang dipilih dan digunting itu merupakan gambaran dari kisah hidup mereka. Lalu gambar tersebut ditempelkan secara berurut di karton warna. Gambar yang ditempel oleh masing-masing ibu boleh bercerita mengenai identitas diri dan pola asuh anak yang dilakukan oleh setiap keluarga. Kemudian beberapa orang ibu diminta untuk menceritakan hasil karya kronologi yang dibuat.

Salah satunya Siti Latifa. Ia bercerita mengenai ke dua orang anak perempuannya yang semakin hari semakin dewasa, namun memiliki karakter yang sangat berbeda. Sehingga pola asuh yang dibangun berbeda satu sama lain. Tidak hanya itu, ia juga bercerita mengenai perbedaannya dengan suami dalam mendidik anak-anaknya. Siti Latifa yang biasa di sapa ibu guru oleh warga sekitar juga mengaku bahwa pada awalnya ia juga cukup pemalu, namun karena selalu belajar dan ikut beberapa kegiatan diskusi membuat dia semakin berani dan terus belajar.

IMG_4440
Ibu Tisa sedang menceritakan pengalamannya lewat guntingan gambar (Dokuemntasi oleh Yuliyanto)

Waktu presentasi gambar selesai, dilanjutkan dengan menonton video kampanye. Video pertama mengenai kekerasan pada anak. Di dalam video yang berdurasi kurang lebih tiga menit itu, digambarkan bahwa anak adalah cerminan dari orang tuanya. Karena, anak dengan mudah akan meniru apapun yang dilakukan orang tua. Jika orang tua menghabiskan waktunya dengan handphone tentu anak akan dengan mudah meniru dan ikut asyik dengan hanphonenya. Jika orang tua terbiasa untuk membentak, anak juga akan mudah membentak saudaranya, ataupun teman-teman sebayanya. Juga hal-hal kecil yang sering dilakukan oleh para orang tua, seperti memukul ataupun menjewer anak. Hal tersebut sangat membawa dampak yang negatif untuk tumbuh kembang anak. Semua ibu terlihat sangat antusias. Ibu Tisa mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali di setiap adegan video. Serta perhatian para ibu yang tidak lepas dari proyektor yang disorot langsung ke dinding Mushola.

IMG_4483.JPG
Suasana nonton bareng ibu-ibu (Dokumentasi oleh Yuliyanto)

Video kedua mengenai dampak pernikahan dini. Karena tidak menapik kenyataan, bahwa pernikahan dini di banyak desa sangat marak terjadi. Selain dari faktor ekonomi, juga pandangan masyarakat yang masih banyak beranggapan bahwa anak perempuan harus secepatnya menikah. Karena ‘takut tidak laku’. Hal tersebut berkembang di desa. Sehingga masih banyak sekali anak-anak yang kurang dari 18 tahun sudah harus menikah. Ditambah lagi, budaya perjodohan yang dilakukan keluarga. Sehingga, ruang gerak dan pilihan untuk anak, terutama anak perempuan menjadi sangat terbatas. hal tersebut tentu bertentangan dengan Konvensi Hak-hak Anak yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun. Setelah menonton video tersebut, banyak para ibu yang merespon positive dan menjadikan hal tersebut menjadi pengetahuan baru. Karena setelah menonton, diskusi semakin hangat. Beberapa ibu semakin terbuka membicarakan persoalan yang terjadi di masyarakat. Di antara yang hadir, ada yang memang dijodohkan dan adapula yang menikah muda. Hal tersebut menjadi pelajaran dan masukan bagi para ibu lainnya.

Lalu, setelah seru berdiskusi, pertemuan ibu berakhir di jam 17.00 WIB. Beberapa ibu pamit pulang ingin melanjutkan pekerjaan rumah yang sudah menjadi tanggungjawab mereka sejak dulu, beberapa ibu lainnya menjemput anaknya mengaji. Sebelum bubar, para ibu juga memberikan pilihan materi untuk pertemuan selanjutnya, yaitu ingin belajar tentang kecerdasan anak dan bagaimana solusi agar meredam emosi dalam mengasuh anak. Ditengah kemajuan teknologi dan komunikasi, Lewat “Rumah Curhat” para ibu desa juga bisa menapatkan banyak informasi baru, biak lewat diskusi ringan, video dan film serta bahan bacaan yang baik. Sehingga, informasi tidak hanya untuk masyarakat diperkotaan, tapi juga sampai ke desa.

*ditulis oleh Grasia Renata lingga

Tulisan ini juga bisa dibaca di tanoker.org

About Desa Sumbersalak

Check Also

IMG-20171028-WA0023

Mantapkan kinerja Pengurus, Pengurus UKPK IAIN JEMBER adakan Rapat Kerja di desa sumbersalak

Pengurus baru salah satu di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) IAIN Jember yang tergabung dengan Unit …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *