Home / PENDAMPINGAN BMI DAN KELUARGANYA / Anak-Anak Paluombo: Belajar Memiliki Cita-cita

Anak-Anak Paluombo: Belajar Memiliki Cita-cita

12662605_1538733206424915_8910212984351252081_n
Feby (mengenakan syal ) bersama teman-teman dari Tanoker disambut dengan tarian Egrang anak-anak Paluombo (Dok.Mohammad Ali)

Sumbersalak- Pada hari Senin (08/02) seperti biasa Dusun Paluombo melakukan pendampingan ibu dan anak sebagai bentuk dukungan kepada buruh migan dan keluarganya. Tapi pendampingan kali ini, lebih ramai dari biasanya. Hampir seluruh anak dan ibu hadir. Menuju siang, anak-anak bahkan sudah siap dengan tarian egrangnya untuk menyambut tamu yang dinantikan. Dia adalah Feby Siahaan, Dosen dan motivator dari Jakarta yang bergerak di isu perempuan dan anak. Ingin berbagi cerita dan semangat kepada anak-anak buruh migran di Ledokombo. Sebelumnya, Feby juga sudah pernah melakukan penelitian di Dusun Paluombo, terkait isu buruh migran. Dari hasil penelitian dan dialog langsung dengan beberapa warga di Dusun Paluombo, Feby menemukan banyak sekali masalah. Terutama kekerasan fisik yang dialami buruh migran. Hal tersebut, tentu ditimbulkan oleh tingkat ekonomi di masing-masing keluarga yang masih sangat rendah. Sehingga menjadi alasan banyak masyarakat Desa Sumbersalak, khususnya Dusun Paluombo memilih bekerja menjadi buruh migran.

IMG_3586
Ibu-ibu tetap semangat mendengarkan, walaupun ruangan yang terbatas. (Dok. Renata )

Berlokasi di TK Nuruzzaman, Paluombo.  Diskusi dimulai jam 14.00 WIB dengan cuaca yang gerimis. Sehingga, kegiatan yang direncanakan di laksanakan di luar ruangan, beralih ke ruangan belajar anak yang lumayan sempit. Namun, tidak menyurutkan semangat ibu dan anak-anak untuk terus memperhatikan apa yang disampaikan Feby. Bahkan dari luar ruangan pun, para ibu tetap antusias memperhatikan serta sesekali mengintip dari jendela agar kelihatan juga bagaimana Feby berdialog yang sesekali mengundang tawa peserta karena lelucon yang dilontarkannya.

IMG_3595
Feby mengenalkan Profesi lewat buku bacaan anak (Dok. Renata)

“Kenapa orang desa, sering banget takut bermimpi ya?”, pertanyaan Feby cukup membuat seluruh peserta, terutama para ibu bingung. Karena sebagai masyarakat desa, sering kali kita merasa terbatas dengan apa yang kita miliki. kendala ekonomi, jarak, persaingan di luar serta hal-hal lainnya yang menurut kebanyakan masyarakat desa sulit sekali untuk dicapai. Padahal, kesempatan selalu datang tepat waktu jika kita mengusahakannya.

“Kamu cita-citanya apa?” tanya Feby lagi kepada seorang anak. Anak itu diam. Tidak menjawab. lalu Feby menunjuk  anak yang lain dengan pertanyaan yang sama. “Guru” jawab anak tersebut. dan setelahnya hampir seluruh anak menjawab cita-cita yang sama, guru. Mungkin karena dilingkungan tempat mereka tinggal yang sering terlihat hanyalah profesi guru.

“Kalaupun cita-citanya guru, jangan mau cuma jadi guru ya. jadi kepala sekolah” ucap Feby lagi penuh semangat. anak-anak tertawa, juga disambut ibu-ibu. Mungkin, menjadi kepala sekolahpun masih cukup sulit bagi mereka. Seperti sesuatu yang masih terlihat tidak mungkin.

IMG_3561
Betapa pentingnya membaca dan mengetahui banyak hal di luar lingkungan kita lewat buku. (Dok. Renata)

“Siapa yang tahu Letak Jember di peta ini?” tanya Feby lagi. Menunjuk satu orang anak lagi, karena anak-anak tidak berani maju. Lalu satu orang anak perempuan maju. dan mencari Letak Jember di peta dunia. Hingga hitungan kesepuluh, anak itu tidak menemukan letak Jember. Dipanggilnya lagi satu orang anak. Lalu ia maju, dan mencari Jember di peta Dunia yang cukup besar. Agus nama anak itu, yang akhirnya menemukan letak Jember. ia tunjuk pulau Jawa yang memang sangat kecil sekali dibanding peta dunia tersebut. Semua anak dan orang tua memberikan tepuk tangan kepada Agus.

“Ibu-ibu tahu gak ya letak Jember di mana, di peta ini?” tanyanya lagi kepada ibu-ibu. tidak ada yang menjawab. dengan perlahan, Feby menunjuk titik letak Kabupaten Jember di bagian gambar pulau Jawa yang ada di peta. “ini bu, kabupaten Jember ada di sini. kecil ya”, katanya mengundang tawa para ibu. “Nah, ini Jawa, Ini Indonesia. Ini Asia. pernah dengar Asia kan bu?” lanjutnya lagi. Begitu selanjutnya, hingga akhirnya Feby menunjukkan letak Benua Asia, Afrika, Australia, Eropa dan Amerika hingga keseluruhan isi peta dunia. “ini Jember, dan ini Dunia bu” katanya membius semua peserta diskusi.”jadi, jangan pernah takut untuk bermimpi dan mempercayakan mimpi besar kepada anak-anak ya Bu. Karena kalau mimpi mereka kecil, mereka hanya terus di tempat yang kecil ini. sementara dunia ini begitu luas” ucapnya dengan semangat dan senyum. Disambut harapan besar dari ibu-ibu.

IMG_3600
Anak-anak fokus memperhatikan berbagai cita-cita yang disebutka. (Dok. Renata)

Feby mengambil satu buku cerita anak yang dibawanya, bertuliskan Bankir. “Siapa yang tahu bankir” tanya Feby lagi kepada seluruh peserta. Masih tidak ada yang menjawab. Sepertinya, anak-anak dan para ibu juga baru mendengar kata Bankir’. Feby menjelaskan bahwa bankir adalah orang yang bekerja di bank. Ia juga mengenalkan profesi lainnya, Astronot, Polisi, Dokter hewan, Dokter manusia semacam Dokter bedah, Dokter anak, Dokter penyakit dalam, Dokter umum, Dokter kanker. Selain itu ada juga Fotografer, Pelukis, Petani, Pengusaha, pekerja sosial, dan masih banyak lagi profesi.

“Jadi ibu-ibu, kalau anak-anaknya punya cita-cita untuk jadi Presiden, jangan di larang ya. Harus disemangati dan didoakan. Anak-anak harus di dukung sejak kecil”, katanya sambil mengipas-ngipas, Karena ruangan yang sempit dan semangatnya cukup membakar para ibu dan anak.

IMG_3621
Ibu Merry, Salah seorang guru di Paluombo memberi semangat dan menutup pertemuan. (Dok. Renata)

Selain belajar dan mengenal cita-cita, Feby juga memaparkan apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan orang tua. seperti kata ‘Jangan’ dan ‘Tidak’. Sebisa mungkin, orang tua harus mengurangi penggunaan kata jangan dan tidak untuk melarang anak melakukan sesuatu. Sebaiknya memilih kata yang lebih tepat atau mengajak anak berdialog dengan memberikan alasan yang bisa diterima anak, Agar anak tidak melakukan hal yang kurang baik. Karena kata jangan dan tidak berdampak pada psikologi anak. Anak-anak akan tumbuh menjadi anak-anak yang penakut dan pengecut. Karena terbiasa tidak diperbolehkan melakukan sesuatu tanpa dia tahu alasannya. Feby juga berpesan untuk tidak memukul kepala anak. karena, dengan memukul kepala, anak-anak seringkali mengingatnya cukup lama dan membekas. Sehingga menimbulkan rasa dendam kepada orantua.

Setelah berdiskusi dengan disambut baik oleh seluruh peserta, Feby juga memberikan hampir 300 buku bacaan anak, untuk Tk Nuruzzaman. Harapannya sederhana, wilayah yang cukup jauh dari pusat kabupaten dan tingkat perekonomian keluarga yang rendah tidak semata-mata menyurutkan semangat anak-anak untuk terus belajar. Apa lagi mengenal banyak hal lewat buku yang ia berikan. Serta untuk pengembangan ruang baca di Dusun Paluombo. (Grasia Renata Lingga- Tulisan lainnya juga bisa dibaca di https://lampujalanblog.wordpress.com/  )

Save

About Desa Sumbersalak

Check Also

Di KOTA PISANG : WARGA SUMBERSALAK BELAJAR MANFAATKAN KOTORAN HEWAN

Sumbersalak – Sejumlah kelompok  pertanian Pertanian Organik Desa  Sumbersalak melakukan kunjungan di desa Ranuwurung kecamatan …

16 comments

  1. Duh ini kegiatan keren sekali, merinding bacanya. Semoga semua anak Indonesia tidak takut untuk bermimpi…

  2. Keren, selayaknya kegiatan ini dilakukan pula okeh desa2 dan penggerak lainnya.

  3. dulu cita – cita saya jadi pilot, karena kurang beruntung ditinggi dan akses untuk bersekolah hixhixhix, emhh tapi ga buat patah semangat bahkan sekarang lebih suka jadi penumpangnya saja deh ^_^, semangat anak-anak

  4. Cita-cita lahir sesungguhnya bukan sekedar angan2 tetapi lahir karena belajar atas pengalaman, informasi, keinginan sebuah perubahan. Itulah kekuatan yg menggerakan cita-cita menjadi dorong kerja alam bawah sadar.

    Anak2 Desa hendaknya diajak utk belajar tentang ruang dan peLuang potensi desa. ….insyaallah Uang datang ok

    • Desa Sumbersalak

      untuk anak-anak Desa, kami baru mengadakan pendampingan belajar dan bermain kreatif.
      dan untuk ibu-ibu, sudah dimulai dengan membuka usaha ekonomi kreatif dengan memanfaatkan potensi desa :)

  5. Salut dengan kerja teman-teman dalam membangun literasi di desa. Ini kerja luar biasa.

  6. Harapan masa depan

  7. Seru… pengalaman yg menyenangkan berbagi pengetahuan…. salut

  8. wah…mantap .jangan takut mimpi.. sulit menjadi kenyatan. tanpa diimpikan lebih dulu…meraih impian untuk kejayaan Desa…go…

  9. Desa Sumbersalak

    Salam semangat dari anak-anak Desa Sumbersalak Pak Suwondo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *