Home / PENDAMPINGAN BMI DAN KELUARGANYA / Diskusi Tematik: Sosial Media sebagai Jalan Buruh Migran Mengadvokasi Dirinya Sendiri

Diskusi Tematik: Sosial Media sebagai Jalan Buruh Migran Mengadvokasi Dirinya Sendiri

Menarik sekali apabila buruh migran tidak lagi hanya menjadi obyek berita. Saat ini dengan hadirnya sosial media, setiap elemen masyarakat bisa memuat informasi-informasi yang terjadi pada dirinya sendiri. “Sudah saatnya kita berhenti berharap orang lain memberikan informasi bagi kita,” tutur Melanie dalam diskusi “Advokasi Buruh Migran Berbasis Teknologi”. Diskusi ini diadakan di Aula Fakultas Kedokteran Umum Unversitas Jember.

Di tempat yang berbeda, Hesthi Murthi, perwakilan Narasumber dari AJI (Aliansi Jurnalis Independen), juga menyinggung Jurnalisme Warga. Di Aula FISIP Universitas Jember dia mengatakan bahwa jurnalisme warga bisa menjadi alternatif dari pemberitaan miring tentang buruh migran. Dengan media sosial dan didukung jaringan internet, buruh migran bisa langsung menulis informasi tentang dirinya sendiri.

Melihat kondisi media saat ini, Hesthi mengatakan bahwa sudut pandang berita masih Jakarta-sentris. Berita mengenai buruh migran pun jarang sekali diangkat ke media, “kalaupun diberitakan, itu berita yang heboh,” kata Philip Artha Sena, perwakilan PPMN. Ini disebabkan media ingin merangkul banyak pembaca, sehingga hanya akan memberitakan berita sensasional, dramatis, kriminal yang kuat, dan yang berhubungan dengan “darah”.

Dalam posisi ini, buruh migran menjadi terpinggirkan. Menurut Sena, berita mengenai buruh migran hanya mempunyai porsi 19% dari keseluruhan berita buruh yang berjumlah sekitar 32 ribu. 28% persen dari angka itu ditujukan untuk demo buruh yang banyak menuai kontroversi. Dengan sosial media, buruh migran mempunyai kesempatan memberitakan dirinya sendiri. Sosial media seperti facebook dan twitter bisa menjadi wadah “curhat” para buruh migran mengenai masalahnya.Selain itu, situs petisi seperti change.org memberikan fasilitas bagi masyarakat untuk membuat petisi on-line dalam hal apapun.

Tak kalah dengan itu, Pemerintah juga memberikan fasilitas dimana masyarakat dapat menyampaikan langsung segala jenis permasalahan yang mereka hadapi kepada Presiden dan meraka menjanjikan penanganan langsung dengan pengawasan oleh staf kepresidenan. Fasilitas itu bernama “Lapor Presiden” yang bisa diakses pada laporpresiden.id. “Yang kampret di birokrasi itu banyak,” kata Ghibran yang merupakan perwakilan narusumber dari staf kepresidenan. Adanya “Lapor Presiden” diharapkan membuat masyarakat dapat ikut serta mengawasi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan melaporkan langsung kepada Presiden.

Namun, konstentrasi buruh migran yang mayoritas di pedesaan, masih menjadi halangan dan tantangan untuk mengakses internet. Selain itu, buruh migran juga perlu belajar menulis agar menyuarakan suaranya sendiri. Melihat masalah ini, Iwa dari Migrant Care berharap agar buruh migran mau belajar mengenai hal ini, sebab “teknologi bukan hanya tentang apa yang terbaru, dan apa yang tercanggih saat ini, namun tentang apa yang kita butuhkan sekarang,” ucapnya. [Novitariyani dan Agustira- UKPKM Tegalboto]


Tulisan ini juga bisa diakses di http://etegalboto.com/

About Desa Sumbersalak

Check Also

Di KOTA PISANG : WARGA SUMBERSALAK BELAJAR MANFAATKAN KOTORAN HEWAN

Sumbersalak – Sejumlah kelompok  pertanian Pertanian Organik Desa  Sumbersalak melakukan kunjungan di desa Ranuwurung kecamatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *