Home / PENDAMPINGAN BMI DAN KELUARGANYA / Diskusi Tematik: Melindungi Buruh Migran Sekeluarga

Diskusi Tematik: Melindungi Buruh Migran Sekeluarga

Kepergian salah seorang anggota keluarga untuk menjadi buruh migran, turut berdampak pada kondisi keluarga yang ditinggalkan. Tyas Retno Wulan, Dosen FISIP Unsoed, mengatakan bahwa semakin tahun, buruh migran perempuan semakin meningkat. Saat ini, katanya, ada sekitar empat juta wanita buruh migran.

Keadaan ini berdampak pada kondisi keluarga. Buruh migran perempuan yang mayoritas sudah berkeluarga, meninggalkan anak dan suaminya di kampung halaman. Banyak balita yang yang ditinggalkan ibunya, menurut Suporahardjo di Kecamatan Ledokombo ada 68 anak usia 0-3 tahun yang ditinggal orang tuanya menjadi buruh migran. Mayoritas mereka yang ditinggalkan kemudian diasuh oleh ayah atau neneknya.

Hal ini menjadi persoalan, kasih sayang ibu kepada anaknya adalah kebutuhan yang wajib terpenuhi bagi anak itu sendiri. Tyas kemudian mencontohkan seorang anak asal Banyumas, yang ditinggalkan oleh ibunya sejak usia 2-8 tahun. Itupun saat pulang, ibunya hanya menghabiskan waktu di rumah selama sebulan sebelum akhirnya berangkat ke Hongkong kembali.

Ini sebenarnya bisa dicegah dengan menerbitkan Perda atau Perdes yang tidak membolehkan ibu yang mempunyai anak balita untuk berangkat menjadi buruh migran. Kondisi psikologis anak biasanya “minder, gak berani kumpul, ada yang jadi nakal untuk mencari perhatian,” ujar Renata, gadis asal Bengkulu yang menjadi relawan di Tanoker, Ledokombo.

Tyas pun turut menyayangkan dampak negatif yang terjadi pada suami-suami yang ditinggalkan buruh migran. “Mohon maaf ya, bapak-bapak,” katanya untuk menjaga peserta laki-laki tersinggung atas cerita yang akan disampaikannya. Di Banyumas, dia bercerita terdapat komunitas bagi suami-suami yang ditinggalkan oleh istri yang telah menjadi buruh migran. Sayangnya, komunitas ini tidak diisi dengan kegiatan yang positif. Setiap berkumpul, mereka biasanya menenggak minuman keras bersama, lalu pergi berbondong ke lokalisasi. “Saya sakit hati sebagai perempuan, yang disana kerja yang di rumah malah bersenang-senang,” katanya sambil terbawa perasaan sebagai perempun.

Menurut Moh. Cholily, Konsultan ILO (International Labour Organisation), buruh migran memang tidak akan mencapai kesejahteraan ekonomi jika hanya bekerja hanya satu kali kontrak. Ini diakibatkan oleh pemotongan gaji yang terlalu besar untuk menambal biaya keberangkatan. Pembengkakan pemotongan gaji ini beragam dan disebut sebagai ulah nakal para calo dan perusahaan penyalur tenaga kerja buruh migran. Dia mencontohkan, jika biaya menurut aturan pemerintah untuk keberangkatan ke Hongkong hanya berkisar Rp. 13 juta, maka calo menarik biaya Rp. 35 juta. Biaya keberangkatan ke Korea Selatan juga demikian, dari Rp. 9 juta menjadi Rp. 45 juta.

Pembengkakan biaya yang besar ini tidak sebanding dengan iming-iming pesangon yang hanya sekitar Rp. 1,5 juta. “Berarti, pesangon itu sebenarnya biaya ibu-ibu sendiri,” ujar Cholily pada peserta.

Dia kemudian mengatakan bahwa hanya sedikit sekali perusahaan penyalur yang kredibel, “bisa dihitung jari lah.” Dia menyarankan buruh migran untuk cermat memilih perusahaan yang memberangkatkannya. Untuk mengetahui kredibilitasnya, buruh migran bisa mengidentifikasi dengan: biaya pemberangkatan yang tidak lebih dari aturan yang ditentukan pemerintah, uji kompetensi dan pelatihan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, lalu meminta perusahaan menunjukkan SIP (Surat Izin Pengelolaan), juga dengan memberikan fasilitas asuransi yang memang wajib diterima oleh buruh migran sejak pra-keberangkatan.[Agustira Rahman Ilhami – Buruh lepas UKPKM Tegalboto]


 

Tulisan ini bisa dibaca http://etegalboto.com/

About Desa Sumbersalak

Check Also

Di KOTA PISANG : WARGA SUMBERSALAK BELAJAR MANFAATKAN KOTORAN HEWAN

Sumbersalak – Sejumlah kelompok  pertanian Pertanian Organik Desa  Sumbersalak melakukan kunjungan di desa Ranuwurung kecamatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *