Home / SOSIALISASI MIGRASI AMAN / Haliyah: “Saudi (lagi) Pilihanku”

Haliyah: “Saudi (lagi) Pilihanku”

Seperti raga melangkah menghadang senja yang pastinya berharap senja tak segera sirna. Saat itu memang kami harus segera menemui ibunda Maryam. Desas-desus dari masyarakat sekitar menginformasikan bahwa ibunda Maryam akan bergegas kembali menjadi pahlawan devisa di Saudi Arabia. Demikian juga Maryam, ia beberapa kali menceritakan hal yang sama pada saya, Ahmad Mufti, dan Siti Latifah. Dari ceritanya, ia sangat khawatir dengan keputusan ibundanya yang ingin kembali bekerja di luar negeri. Alasan itulah yang menguatkan langkah kaki kami untuk menuju kediamannya.
“Assalammualaikum”, sapa kami didepan pintu rumah keluarga Maryam. “Waalaikumsalam”, jawab kakak yang bernama Siri. “Aku main ya pingin ketemu ibu”, tambah saya. “iya mbak ayo masuk ibu sakit ada di dalam. Sebentar ya saya panggil”, ungkap Siri. Tak lama kemudian keluarlah dari kamar seorang perempuan berbadan tinggi besar. Ibu itu ternyata adalah ibunda Maryam yang bernama Haliyah. Kondisi tubuhnya kurang sehat pada saat itu. Ia mengeluhkan sudah 3 hari pinggangnya sakit.
Perbincangan pun kami mulai. Bukan langsung menembak membicarakan rencana kepergiannya kembali ke Saudi Arabia, namun mengenai Maryam dan kegiatannya bersama kami di setiap minggunya. Sebagai salah satu bentuk etika jika mengajak seseorang untuk berkegiatan adalah memamitkannya kepada pihak keluarga. “Bu, kami mau memamitkan Mbak Maryam kan setiap hari Jumat sore ke Musholla ada kegiatan pendampingan anak. Disana ada saja sama Mas Mufti dari Tanoker. Takut sampean nyari kan sudah lama ikut tapi belum dipamitkan. Nanti takutnya dicari sama ibu”, tutur saya kepada Haliyah. “Iya dek ndak papa. Saya ijinkan”, balasnya.
Suasana sudah mulai mencair dan Bu Haliyah sudah mulai terasa dekat dengan kami yang memang belum pernah bertemu sebelumnya. Masuklah kami memperbincangkan menyoal kepergiannya selama bertahun-tahun mengadu nasib menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) di luar negeri. Ia bertutur bahwa sudah berkali-kali ke bekerja ke luar negeri. Kepergiannya pertama menuju Suriah selama 3,5 tahun. Setelah itu, ia lagi bekerja di Saudi selama 1 tahun. Tak usai disitu, pulang beberapa saat ia kembali mengukir sejarah kehidupannya untuk berjuang ke Saudi Arabia serta Malaysia. Kepergiannya tersebut menggunakan jasa PT. Amira, PT. Ashami, dan PT Binakala yang semuanya berada di Jakarta. Ia meyakinkan saya, Mufti, Maryam, dan Siri bahwa selama di penampungan dan di luar negeri dirinya dalam kondisi sehat.
Sejak September 2014, dirinya memutuskan untuk pulang paskah meninggalnya sang suami di Bulan Mei 2014 akibat tumor ganas di alat kelamin yang menyebar sampai organ bagian perut. September 2014 hingga Mei 2015 kegiatannya mengurus rumah tangga di kediamannya sendiri. Disertai logat Melayu yang masih kental, ia berkeluh kesah, “tidak punya penghasilan saya sekarang. Ini kalau sudah sembuh mau pergi lagi”. “Loh, mau kemana lagi?”, tanya saya seolah terkejut padahal sudah mengetahui sebelumnya. Bibirnya mulai bergeming untuk bercerita ”di rumah ini tidak punya apa-apa saya. Kalau tak pergi apa saya yang untuk masa depan anak ini. Rencana mau ke Saudi lagi lewat PT Jagung”. Perbincangan semakin jauh sampai kami mendapatkan informasi bahwa dirinya sudah membuat passport dan berlaku selama 3 tahun kedepan.
Di sela-sela perbincangan kami berusaha memberikan informasi yang kami tahu tentang masih berlakunya moratorium BMI ke Saudi Arabia. “Boleh atau mungkin dipersulit. Tidak tahu saya. Katanya tidak seperti dulu tapi boleh dan banyak yang kesana”, sekelumit tanggapan dari Haliyah. “Di Saudi Arabia banyak sekali masalah-masalah yang menimpa tenaga kerja asal Indonesia. Saat ini antara Indonesia dan Saudi Arabia masih berunding itu sebabnya sampai terjadi moratorium”, ungkap Mufti. Saya menambahkan kembali, “ditanyakan lagi ya bu akan transit dimana, sudah dapat majikan atau belum, dan kerjanya apa. Dibaca dulu bu kontraknya. Jangan lupa ibu tanyakan juga nama majikannya siapa dan alamatnya dimana. Nanti setelah tahu segera kabarkan keluarga disini agar keluarkan tidak khawatir. Biasanya ibu boleh bawa HP kan? Ini bukan kami melarang ibu untuk bekerja di luar negeri, tetapi kami ingin ibu baik-baik saja disana”. “Itu harus tinggal di PT? Tinggal di PT meski belum dapat majikan?. Seharusnya kalau menurut peraturan pemerintah itu PT tidak boleh merekrut calon buruh migran kalau tidak ada permintaan tenaga kerja di Saudi Arabia. Jadi permintaan itu sudah jelas siapa saja orang yang membutuhkan buruh migran itu sudah jelas. Kalau tidak jelas dan tidak ada permintaan buruh migran, maka akan terjadi kasus orang direkrut PT dan lama tinggal di penampungan sampai berbulan-bulan juga sampai bertahun-tahun. Efeknya kalau lama tinggal di PT atau pendampingan disana akan membengkak biayanya untuk itu. Kalau sudah masuk PT akan sulit untuk keluar”, lanjut Mufti. Haliyah pun menjawab, “biasanya saya diijinkan membawa HP tetapi harus yang tidak ada kameranya. Katanya belum ada pekerjaan sama majikannya disana tapi tetap harus ada di PT dulu. Ada yang bawa saya kesana dari Sumber Bulus namanya Marzuki (baca: calo). Orangnya baik dan itu sudah berkali-kali sama saya. Saya ikut itu terus kemarin”. Saya mencoba mengajak Haliyah untuk meramu perlindungan untuk dirinya, “itu pihak desa juga harus tahu perginya kemana dan dibawa oleh siapa. Kepala Desa Sumber Salak namanya Pak Haki sudah mulai menertibkan warganya yang mau berangkat ke luar negeri agar terlindungi agar ibu disana baik-baik, seperti tidak disiksa atau tidak diperlakukan tidak baik disana. Kalau disana aman kan keluarga jadi tidak khawatir. Paling tidak anak-anak ibu yang ditinggalkan tahu nomor HP ibu dan alamat majikan”. Haliyah menjelaskan kembali, “kalau saya waktu di Saudi dulu dikasih sama majikan. HP itu dikasih sama majikan. Saya tak beli sendiri”.
Sementara selesai sudah membicarakan hal itu tanpa guyonan sedikitpun. Kami selibkan sedikit guyonan, “loh bu kalau Mbak Maryam mau nikah gimana kalau ibu tidak disini kan tidak bisa datang?. Siapa tahu tahun depan Mbak Maryam diminta orang. Terus sampean juga tidak bisa di telepon”. “Ya mungkin tunggu saya balik 3 tahun lagi”, tandasnya sambil terbahak. Maryam menimpali, “sama seperti kakak waktu nikah kan ibu tidak datang”. Haliyah menjelaskan, “ini Siri menikah di rumah mertuanya. Saya di rumah tidak ada. Waktu itu masih di Saudi tahun 2012”.
Penjelasan Haliyah melebar dengan bercerita kepulangan terakhirnya dari Malaysia di minggu terakhir pada September 2014. Ketidakmampuannya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari terutama dalam hal pangan membuatnya kembali bertekad untuk kembali bekerja di Saudi Arabia. Faktor lain yang menunjang kepergiannya karena ia tidak memiliki lahan yang cukup dan pekerjaan untuk penghasilan sehari-hari. Sedangkan perolehan bekerja di tahun-tahun sebelumnya digunakannya untuk membayar hutang dan kebutuhan sehari-hari yang dikirimnya terkadang dalam 6 bulanan melalui western union yang diterima oleh suaminya sebelum meninggal.
Terakhir pembicaraan kami di 27 Mei 2015 adalah mengenai alasan Haliyah memilih bekerja di Saudi Arabia dibanding negara lain karena ia sudah banyak memahami Bahasa Arab. Sedangkan di negara lain seperti Hongkong harus bisa berbahasa Inggris yang belum dikuasai oleh dirinya. Haliyah sempat mencontohkan Bahasa Arab ke kami, misalnya sebutan madam untuk majikan perempuan, baba untuk majikan laki-laki, dan rijal untuk anak laki-laki. (Sisillia Velayati)

About Desa Sumbersalak

Check Also

1928909_166817727037485_7718673219636581895_n

Membangun Desa untuk Mandiri dalam Data dan Informasi

Penguasaan teknologi dan informasi menjadi sesuatu yang mutlak harus dikuasai secara maksimal oleh masyarakat. Terutama …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *