Home / PENDAMPINGAN BMI DAN KELUARGANYA / Demam Penyedap Rasa…Ah, Ayo Hidup Sehat

Demam Penyedap Rasa…Ah, Ayo Hidup Sehat

Sore itu 9 Maret 2015, anak-anak datang ke Musholla At-Taufiq jauh sebelum pelaksanaan mengaji dimulai. Kami melihat mereka berdatangan sekitar mulai pukul 15.20 WIB. Mereka ada yang duduk-duduk sambil berbincang dan bermain aneka permainan tradisional di halaman, seperti bermain egrang sampai gobak sodor. Ada juga anak-anak perempuan yang rojekghen. Mereka memanggil kami “ayo-ayo noro’ rojekghen”. Ikut nimbrung bersama mereka yang seolah merasakan nikmatnya rojekghen. Tragis melihat pola rojekghen dimana mereka membawa bhebhel (nangka yang masih sangat kecil dan muda),penyedap rasa, garam, cabe, serta bersanding pula minuman bersoda. Mereka berujak ria diawali dengan mencampur bhebhel, penyedap rasa, garap, dan cabe. Inilah satu permasalahan mengenai pola makan anak yang sementara kami temui di hari itu.

rujak

kebiasaan rojeghen sebelum mengaji

Mulai bergerak mencari solusi atas pola makan mereka. Makan sehat di setiap pendampingan anak adalah kuncinya. Setiap makan sehat yang diberikan kepada anak-anak dimana sebagian besar dari mereka adalah anak buruh rantau dalam dan luar negeri tidaklah cukup dengan hanya sekedar makan, namun kami bertanya terlebih dahulu, “adik-adik, makanan sehat itu yang seperti apa ya?”. “Yang ndak ada bahan pengawet, ndak pakai borak, ndak pakai pewarna”, jawab mereka. Kembali kami menanyakan, “hayo, kalau pemanis buatan kayak sari manis itu gimana, terus kalau penyedap kayak vetsin itu gimana? sehat apa ndak kalau makan itu?”. Mereka diam serentak serta terlihat yang terbiasa rojekghen menoleh ke arah kanan dan kiri seakan bingung menjawab. Ibu Latifah dan Ibu Muflihatun yang sudah kami pengertian tentang hal itu sontak menjawab, “tidak baik”. Lagi-lagi kami menanyakan kepada anak-anak, “kenapa tidak baik ya?”. Mereka jawab, “ndak tahu”. Kami berusaha menjelaskan bahwa jika penyedap rasa atau biasa disebut vetsin ataupun micin dikonsumsi atau dimakan secara berlebihan, maka dapat menyebabkan kanker. Kita harus mengurangi makan micin dan nanti kalau sudah mengurangi bisa jadi lama-lama sama sekali tidak makan micin.

 

 

penyebab rasa 1

Belajar Bersama tentang Bahaya Penyedap Rasa

Dari minggu ke minggu hingga bulan ke tiga kami mengamati pola makan mereka. Sudah tak ada satupun dari mereka yang membawa penyedap rasa untuk rojekghen. Meski dibalik itu semua masih ada satu sampai dua anak yang membawa makanan ringan mengandung banyak penyedap rasa dan pewarna buatan.

makaroni

Makanan yang Dibawa Segelintir Anak Saat Mengaji dan Pendampingan Anak

Bergerak terus kami mengamati mereka sampai tepat pada tanggal 5 Mei 2015 keinginan untuk mencari tahu kejujuran mereka tentang perkembangan konsumsi penyedap rasa di keluarganya. Duduklah bersama dengan seorang remaja yang rutin mengikuti kegiatan pendampingan anak. Siti Rohayah namanya. Dialah pemimpin rojekghen yang tiga bulan lalu kami temui. Ia menuturkan perubahan yang sangat dahsyat terjadi dalam diri dan keluarganya menyoal konsumsi penyedap rasa. “Dulu saya makan penyedap rasa yang berlebihan. Tetapi setelah mengikuti pendampingan anak, saya bisa mengurangi mengkonsumsi penyedap rasa. Saya juga berani bilang ke nenek jika mengkonsumsi penyedap rasa tidak baik untuk kesehatan. Sekarang, meski nenek masih belum bisa mengurangi mengkonsumsi penyedap rasa untuk mengirim makanan bagi pekerja di sawah karena takut dinilai tidak enak, namun nenek sudah menguranginya untuk makanan yang khusus dikonsumsi oleh keluarga sendiri. Saya ingin hidup sehat”, katanya sambil senyum malu-malu. (Sisillia Velayati)

About Desa Sumbersalak

Check Also

Di KOTA PISANG : WARGA SUMBERSALAK BELAJAR MANFAATKAN KOTORAN HEWAN

Sumbersalak – Sejumlah kelompok  pertanian Pertanian Organik Desa  Sumbersalak melakukan kunjungan di desa Ranuwurung kecamatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *